:
Breaking News

Haura Bintany Lathifah, Puisi, Lagu, dan Jalan menjadi Diri

top-news

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di hadapan ratusan peserta upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Haura Bintany Lathifah berdiri dengan mikrofon di tangannya. Anak 11 tahun yang biasa disapa Bintan itu membacakan puisi Ibu Pertiwi karya Bupati Sumenep, kemudian menyanyikan Lukisan Indonesia karya Mhala dan Tantra Numata.

 

Pagi itu, halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep berubah menjadi panggung bagi seorang anak sekolah dasar. Tepuk tangan terdengar setelah penampilannya.

 

Namun, panggung tersebut bukan titik awal perjalanan Bintan. Jauh sebelum tampil dalam upacara kemerdekaan, siswi kelas V SDIT Al-Wathoniyah itu sudah akrab dengan puisi, lagu, dongeng, dan berbagai perlombaan.

 

Ia telah mengumpulkan sejumlah prestasi dalam menyanyi solo, baca puisi, mendongeng, lagu nasional, hingga lagu Madura. Dua tahun berturut-turut Bintan meraih juara pertama menyanyi solo FLS3N. Ia juga pernah menjadi juara pertama lomba menyanyi solo tingkat Madura di Pamekasan serta memperoleh sejumlah penghargaan dari lomba puisi dan mendongeng.

 

Lukisan Indonesia yang dinyanyikannya dalam upacara kemerdekaan pun bukan karya yang baru dipelajarinya. Lagu itu sebelumnya telah mengantarkan Bintan meraih juara pertama dalam lomba tingkat Madura.

 

Di balik sederet prestasi tersebut, ada proses yang berlangsung lebih sederhana: latihan di rumah, pendampingan orangtua, dan keberanian untuk terus mencoba.

 

Di rumah, Bintan tidak hidup dalam suasana seperti seorang calon bintang yang setiap harinya harus berlatih. Ia tetap menjalani rutinitas anak seusianya. Belajar, mengaji, bermain, tidur siang, membuat kerajinan, dan menggunakan gadget menjadi bagian dari kesehariannya.

 

Keterbatasan alat musik juga tidak selalu menjadi penghalang. Karena tidak memiliki alat musik, Bintan memanfaatkan aplikasi piano di gadget untuk mengenal nada dan mencoba memainkan melodi.

 

Orangtuanya, Arimas Valentina Fitri Pasa dan Aji Prasetya Budiman, memilih pendekatan yang tidak memaksakan kehendak. Mereka mencoba membaca ketertarikan anak, kemudian memberikan kesempatan untuk mengembangkannya.

 

“Kami mendidik anak-anak dengan santai tapi serius, dan tidak otoriter,” ujar Arimas.

 


Bakat Bintan dalam puisi bahkan tumbuh dari lingkungan keluarga. Arimas pernah mengikuti lomba puisi dan mengenal sastra melalui ayahnya, yang merupakan kakek Bintan. Pengalaman itu kemudian diteruskan kepada putrinya.

 

Arimas sendiri yang melatih Bintan membaca puisi. Ia mengajarkan cara mengatur napas, memahami kata, mengatur intonasi, dan membangun suasana ketika menyampaikan puisi.

 

Bagi Bintan, membaca puisi dengan demikian bukan sekadar menghafalkan teks. Ada proses memahami dan menghidupkan kata-kata di hadapan penonton.

 

Sementara kemampuan bernyanyi berkembang melalui kursus dan kompetisi. Setiap perlombaan menjadi ruang bagi Bintan untuk menguji kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri.

 

Bagi keluarga, penghargaan yang diperoleh Bintan bukan tujuan akhir.

 

Arimas lebih melihat setiap kesempatan tampil sebagai bagian dari proses tumbuh seorang anak. Piala dapat menjadi tanda pencapaian, tetapi keberanian untuk tampil dan menemukan sesuatu yang disukai anak dinilai jauh lebih penting.

 

“Dengan munculnya Bintan, seorang anak kecil bisa tampil di acara besar seperti tadi, itu kami sudah MasyaAllah sekali, bangga sekali,” kata Arimas.

 

Harapan itu pula yang membuat keluarga tidak ingin perjalanan Bintan berhenti pada deretan kejuaraan. Mereka ingin bakatnya berkembang bersama kepercayaan diri, tanpa membuat masa kanak-kanaknya kehilangan ruang untuk bermain dan menikmati kehidupan.

 

Arimas memiliki harapan agar bakat tersebut kelak dapat membawa Bintan lebih jauh.

 

“Dari Bintan kecil, semoga nanti sampai menjadi Bintan yang besar di dunia entertain,” ujarnya.

 

Jalan menuju dunia hiburan masih panjang. Bintan baru berusia 11 tahun dan masih berada di bangku sekolah dasar. Panggung di halaman Pemkab Sumenep pun hanyalah salah satu dari sekian banyak panggung yang mungkin akan dilaluinya.

 

Yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan bernyanyi atau membaca puisi. Ada keberanian, kedisiplinan, kepekaan terhadap kata, dan kemampuan menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

 

Pada usia ketika sebagian anak masih mencari keberanian untuk berbicara di depan kelas, Bintan mulai menemukan kekuatannya melalui suara.

 

Suara itu mungkin kelak membawanya ke panggung yang lebih besar. Tetapi untuk saat ini, perjalanan terpentingnya adalah terus belajar menemukan siapa dirinya, tanpa kehilangan kegembiraan menjadi seorang anak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *